Rabu, 26 Mei 2010

INDIKATOR EKOLOGIS SEBAGAI TOLOK UKUR KONSERVASI

Intisari :
Konservasi adalah upaya untuk melindungi, mengawetkan, dan melestarikan sumberdaya alam yang meliputi spesies, genetik, popolasi habitat dan ekosistem. Prakonservasi perlu dilakukan monitoring atau survey untuk menilai permasalahan yang terkait dengan ancaman keberlanjutan  sumberdaya yakni melalui penilaian indikator ekologi untuk mendeteksi perubahan lingkungan, penentuan status berdasarkan atribut ekologi, akurasi metode yang digunakan, dan harus memiliki tujuan yang jelas  pengakuan skala spasial dan temporal, penialaian variabel statistik, presisi dan akurasi, menilai ancaman stres, yang masih berhubungan dengan indikator ekonomi dan sosial. Peran ekologi genetika diharapkan dapat menyelesaikan masalah silsila untuk populasi intrinsik, spesies sebagai indikator ekologi karena spesies dapat  mengubah habitat untuk kebutuhan mereka sendiri namun juga dapat mempengaruhi habitat dan peluang spesies lainnya, spesies juga memainkan peran penting dalam transfer materi dan energi di dalam tingkatan tropik, ikan juga dapat digunakan sebagai indikator ekologi  karena distribusi dan penyebaran suatu jenis ikan berkaitan erat dengan faktor lingkungan, selain itu faktor lingkungan juga dapat merangsang terjadinya perubahan metabolisme dan respon fiisiologis dalam tubuh ikan seperti sekresi kelenjar hormon, serta indikator lainnya yang biasa digunakan untuk menilai status ekosistem adalah makroinvertebrata yang dapat menggambarkan kualitas air karena mampu bertahan pada kondisi perairan yang tercemar sekalipun, selain itu makroinvertebtara juga sebagai biofilter yang baik, serta dapat mendaur bahan organik.
PENDAHUAN
Indikator ekologi adalah suatu proses persipan desain yang meliputi situs pengambilan sampel lapang secara spasial dan teporal, protokol laboratorium, rencana lanjutan, desain survey yang sesuai, motode yang konsistem, untuk menggambarkan status dan melacak perubahan, berdasarkan kepentingan atribut ekologi yang dipilih (Olsen and Peck, 2008 dalam EPA, 2010). Penilaian variabei kompenon ekosisten yang meliputi komponen fisik atau biologi memiliki efek terhadap komponen lain dari ekosistem. Indikator ekologi yang biasa digunakan dalam penentuan status dari ekosisitem adalah tutupan karang keras, yang merupakan indikator kesehatan bagi terumbu karang karena banyak organisme lain yang bergantung pada karang keras untuk kelangsungan hidupnya, predator atau penyakit karena predator atau penyakit dapat mengurang tutupan karang (Hill dan Wilkilson, 2004).
Indikator ekologi memiliki daya tarik bagi para ilmuan, manajer lingkungan, dan masyarakat umum. Indikator ini sejak lama  digunakan untuk mendeteksi perubahan alam, indikator utama yang digunakan dalam menilai kondisi lingkungan sebagai sinyal peringatan dini masalah ekologi dan sebagai barometer untuk tren sumberdaya ekologi. Penggunaan indikator ekologi harus memiliki tujuan jelas yang menyatakan, pengakuan skala spasial dan temporal, penilaian variabelitas statistik, presisi dan akurasi, hubungan dengan stres tertentu, yang masih berhungan dengan indikator ekonomi dan sosial. Indikator ekologi diatrur secara legislatif oleh banyak negara di dunia, termasuk dalam perjanjian internasional. Kemajuan ilmiah dan inovasi pengembangan indikator ekologi melalui barbagai aplikasi diantaranya adalah biologi molekuler, teknologi komputer seperti sistem informasi geografis, manajemen data seperti bioinformatika, dan penginderaan jauh, kemampuan kita untuk menerapkan indikator ekologi untuk mendeteksi sinyal dari perubahan lingkungan akan ditingkatkan secara substansial (Niemi dan McDonald, 2004).
Menurut Dale et al, (2012) pertimbangan keberlanjutan suatu  kegiatan   mempengaruhi aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara lokal dan global. Adopsi prkatek pengelolaan sumberdaya harus mengacu pada defenisi dari aspek keberlanjuttan, mengembangkan indikator yang mudah diukur, bergerak menuju sistem keterpaduan, dan menawarkan intsentif atau menerapkan aturan untuk mempengaruhi kegiatan tersebut. Ekologi kawasan baik habitat dalam ekosistem merupakan informasi dalam pertimbangan keberlanjutan karena memberikan metode dan teori untuk menangani hetrogenitas spasial, skla, integrasi, dan kompleksitas. Berdasarkan permasalahan indikator ekologi, maka Dale et al, (2012) mengusulkan beberapa pertimbangan yang perlu mendapat diperhatikan lebih lanjut pada skala lokal dan regional meliputi : (1) protokol dalam mengukur bahan dan aliran energi (2) spesifikasi standar untuk praktek manajemen dan sesuai dengan pengeruhnya (3)  insentif dan disentif untuk meningkatkan kondisi lingkungan, ekonomi, dan sosial (keuangan,  peraturan, motivasi prilaku, dan lainnya) (4) Perencanaan kawasan terpadu dan manajemen (5) pantauan dan penilaian (6) integrasi kebijakan untuk mempromosikan keberlanjutan kegiatan konservasi.
Naeem et al (2002) mengusulkan dalam menilai kelas keanekaragaman hayati berdasarkan tiga fungsi ekosistem, yaitu: (1) Kelimpahan spesies memiliki fungsi yang sama, dan hilangnya satu spesies dapat diimbangi oleh spesies lain, sehingga penambahan spesies mungkin tidak perdampak seberapa baiknya  fungsi ekosistem; (2) Spesies pada dasarnya adalah tunggal, membuat kontribusi yang unik untuk fungsi ekosistem; (3) Kelebihan dan kekurangan dari suatu spesies memiliki dampak terukur dari fungsi ekosistem; dan dampak spesies yang tergantung pada konteks. Dalam hal ini, dampak dari kerugian atau keuntungan dari spesies pada fungsi ekosistem yang istimewa dan tak terduga. Apa yang terjadi akan tergantung pada kondisi lokal di mana kepunahan spesies atau penambahan terjadi.
Permasalahan dan bentuk ancaman yang sangat serius terhadap sektor perikanan dan kelautan, yang terkait dengan kelestarian sumberdaya hayati laut sebagai masalah utama dalam pengelolaan dan pengembangan konservasi perairan antara lain: (1) pemanfaatan berlebih terhadap sumber daya hayati, (2) penggunaan teknik dan peralatan penangkapan ikan yang merusak lingkungan, (3) perubahan dan degradasi fisik habitat, (4) pencemaran, (5) introduksi spesies asing, (6) konversi kawasan lindung menjadi peruntukan pembangunan lainnya dan (7) perubahan iklim global serta bencana alam (Dermawan et al, 2008).
Konservasi keanekaragaman hayati merupakan tujuan utama dalam konservasi alam, akan tetapi untuk mengukur keanekaragaman hayati total dari sebuah wilayah adalah tidak memungkinkan, sehingga perlu ada indikator untuk mewakili keanekaragaman hayati. Indikator spesies digukanakan untuk menilai besarnya gangguan antropogenik, untuk memantau tren popolasi spesies lain, terutama pada daerah yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi  (Heink dan Kowarik 2010; Caro dan O’Deherty 1998).
Konservasi ekosistem dilakukan dalam rangka menjamin habitat hidup sumberdaya agar terjaga kelestariannya, baik pada area pemijahan, area asuhan, area mencari makanan juga pada jalur ruaya baik pada perairan laut, payau maupun tawar. Beberapa ekosistem yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya ikan adalah laut, padang lamun, terumbu karang, mangrove, estuari, pantai, sungai, danau, waduk, rawa, embung dan ekosistem buatan lainnya. Sementara itu konservasi jenis ikan dan konservasi genetik ikan adalah untuk melindungi jenis ikan dan genetik ikan yang terancam punah, ataupun yang sudah langkah, yang selnjutnya untuk menjamin keanekaragaman hayati, sehingga keseimbangan populasi atau spesies ikan yang tetap terjaga dan pengelolaan perikanan dapat tercapai (Haryani, et al, 2008). 
PEMBAHASAN
Konservasi sumberdaya perikanan didefinisikan sebagai kawasan perairan tertentu, baik air tawar, payau maupun laut dengan kondisi dan ciri tertentu sebagai tempat berlindung atau berkembang biak jenis sumberdaya ikan tertentu, yang berfungsi sebagai daerah perlindungan. Sarnita et al, 2000 dalam Kartamiharja et al, (2010) mengklasifikasikan kawasan konservasi sumberdaya perikanan di perairan umum daratan atas empat golongan yaitu : kawasan produksi ikan, kawasan plasma nutfah ikan, kawasan wisata/budaya perikanan dan kawasan ilmu pengetahuan perikanan. Untuk keperluan pengembangan perikanan tangkap, pengembangan kawasan produksi ikan merupakan salah satu pilihan yang harus dilakukan. Hogarth et al 2000 dalam Kartamiharja et al (2010) mendefinisikan kawasan produksi ikan sebagai kawasan perairan yang dibatasi oleh batas-batas yang jelas, dengan seperangkat peraturan teknis tertentu yang dimaksudkan untuk melestarikan atau meningkatkan hasil potensial ikan yang tersedia sebagai stok ikan alami untuk dimanfaatkan oleh  masyarakat.
Beberapa kriteria ekologis dalam menetapkan kawasan produksi ikan agar kawasan tersebut berfungsi efektif adalah sebagai berikut :
a.       Harus memenuhi kriteria limnologis yang sesuai sebagai habitat pemijahan, asuhan, dan mencari makanan.
b.      Mempunyai konektivitas ekologis atau saluran penghubung dengan kawasan penangkapan di sekitarnya.
c.       Terdapat pembagian zona yang meliputi, zona inti, penyangga dan zona ekonomi.
d.      Ada regulasi sebagai perangkat pengelolaan sumberdaya ikan yang dapat berasal dari kearifan lokal dan ditetapkan secara formal oleh pemerintah.
e.       Dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap aspek biologi reproduksi ikan dan aspek limnologis kawasan untuk adaptasi pengelolaannya.
Indikator ekologi mencerminkan suatu perubahan yang terjadi pada berbagai tingkat dalam hirarki ekologi, dimulai dari tingkat gen hingga spesies dan akhirnya ke seluruh ekosistem dan kawasan  (Noon et al. 1999).
Tabel 1. Contoh komponen dan indikator ekologi
Hirarki
Proses
Saran Indikator
Organisme
Keracunan Lingkungan hidup
Mutagenesis
Perubahan bentuk fisik
Luka
Muatan parasit
Spesies
Rentang perluasan atau penyusutan
Kepunahan
Rentang ukuran
Jumlah populasi
Populasi
Fluktuasi kelimpahan
Kolonisasi atau kepunahan
Umur atau stuktur ukuran
Penyebaran perilaku
Ekosistem
Pengecualian kompetitif
Pemangsaan atau Parasitisme
Aliran energy
Kekayaan spesies
Kemerataan spesies
Jumlah tingkatan tropik
Bentang alam
Gangguan
Suksesi
Fragmentasi
Distribusi spasial komunitas
Persistensi habitat

Indikator genetik sebagai indikator ekologi
Nilai akhir genetika dalam ekologi bukanlah subjek kesepakatan bersama, tetapi merupakan hasil dari penelitian genetik, ketika dihubungkan dengan studi lapangan, dapat menghasilkan sesuatu yang kuat dan relevan untuk konservasi. Tujuan utama dari ekologi genetika adalah untuk menyelesaikan hubungan dari silsilah keluarga untuk populasi intraspesifik. Dengan lokus nuklir hipervariabel, peneliti dapat menentukan pilihan pasangan, perilaku reproduksi, silsilah, dan struktur sosial. Upaya ini membutuhkan waktu berbulan-bulan di laboratorium, namun menghasilkan informasi yang bisa memerlukan setahun studi lapangan. Survei genetik populasi DNA organellar dan nuklir adalah alat yang akurat untuk menyelesaikan unit pengelolaan biota di alam bebas dan konektivitas ekosistem proksimat. Semua informasi sejarah alam memilikiaplikasi dalam konservasi (Moritz 1994; Joseph et al. 1995; Avise 1996, Schneider et al. 1998; dalam Bowen 1999).
Peranevolusi genetikadalam konservasi diawali dengan tujuan melestarikan keanekaragaman genetik yang benar-benar mempengaruhi proses evolusi dan memungkinkan adaptasi terhadap perubahan kondisi. Kuantitatif genetik atampaknya memiliki peran yang semakin penting. Banyak keanekaragaman genetik yang diamati dalam populasi tanaman danhewanliar mungkintidak relevan dengan proses evolusi, oleh karena itutidak relevan dengan konservasi proses evolusi. Namun, tujuan umumnya adalah melestarikan keragaman genetik yang berkurang (Storfer 1996; Lynch 1996).
Mutasi pada perkembangan operon dan pengaturan katalis penting dalam evolusi. Transposon dapat memasukkan diri di lokasi dalam genom yang akan mengubah ekspresi lokus yang berdekatan (McDonald 1990; dalam Bowen, 1999). Perubahan struktur protein melalui mutasi dapat mengganggu pengakuan gamet (Palumbi 1994; Swanson and Vacquier 1998 dalam Bowen 1999). Kelas perubahan genom mungkin memungkinkan pengembangan baru dan evolusi spesies baru (Krieber &Rose1986 dalam Bowen 1999). Perkembangan terkini 'genom' terus mengungkap berbagai kromosom eukariotik, ada kemungkinan bahwa bidang evolusi molekuler akan mengambil langkah-langkah kuantum dalam mengidentifikasi unsur-unsur genetik yang mempengaruhi evolusi organisme. Penemuan dapat diharapkan untuk memberikan kriteria mengidentifikasi garis keturunan evolusi geminate sebagai sarana melestarikan dan menghasilkan keanekaragaman hayati mendatang.
Spesies sebagai indikator ekologi
Spesies menjadi salah satu elemen yang menjadi indikator ekologi dalam konservasi. Spesies indikator sendiri merupakan salah satu dari beberapa kriteria dari spesies fokal yaitu spesies yang mendorong dibentuknya suatu kawasan konservasi (Noss et al. 1999). Adapun beberapa kriteria dari spesies fokal, adalah:
Spesies indikator adalah spesies yang statusnya menunjukkan fungsi dari status kelompok yang lebih besar dari spesies dan mencerminkan status kunci dari suatu habitat, atau bertindak sebagai peringatan dini untuk mengantisipasi suatu tekanan lingkungan (misalnya populasi rusa ekor putih (Odocoileus virginianus) yang menunjukkan ketersediaan hutan padang rumput yang terbatas).
Spesies kunci (keystone spesies) memiliki efek lebih besar pada satu atau lebih proses ekologi daripada kelimpahan atau biomassa yang diperkirakan (misalnya burung pelatuk merah (Picoides borealis) menciptakan rongga di pohon hidup yang memberikan perlindungan bagi 23 spesies lainnya (Dennis, 1971 dalam  Dale dan Beyeler , 2001).
Ecological engineers yaitu spesies yang mengubah habitat untuk kebutuhan mereka sendiri namun juga dapat mempengaruhi habitat dan peluang spesies lainnya (seperti kura-kura gopher (G. Polyphemus) menggali liang yang digunakan juga oleh banyak spesies lain).
Umbrella spesies (spesies payung) memiliki persyaratan habitat yang luas atau menggunakan beberapa habitat yang juga merupakan habitat dari banyak spesies lainnya (misalnya burung hantu tutul utara (Strix occidentalis caurina) yang menempati seluruh areal hutan).
Link Spesies memainkan peran penting dalam transfer materi dan energi di dalam tingkatan tropik atau menyediakan link penting untuk transfer energi dalam jejaring makanan yang kompleks. Misalnya, anjing padang rumput (Cynomys spp.) yang hidup pada ekosistem padang rumput mengkonversi produktivitas tanaman utama menjadi biomassa hewan yang pada gilirannya akan mendukung komunitas predator yang beragam.
Ikan
Ikan sebagai salah satu komponen penyusun ekosistem akuatik, merupakan salah satu organisme yang rentan terhadap perubahan lingkungan terutama yang diakibatkan oleh aktivitas antropogenik baik langsung maupun tidak langsung yang menyebabkan rusaknya habitat sehingga akhirnya akan mempengaruhi distribusi dan penyebaran ikan di suatu perairan. Ikan adalah salah satu indikator dalam biomonitoring sungai, yang dapat digunakan secara terpisah ataupun contemporaneously.
Distribusi ekologis ikan adalah penyebaran suatu jenis ikan yang berkaitan erat dengan faktor lingkungan. Distribusi ekologis ikan umumnya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan, diantaranya suhu (temperatur), kedalaman, cahaya, pH, oksigen terlarut, musim, serta faktor ketersediaan makanan di perairan, maupun tingkat kompetisi dan predasi. Distribusi ikan ditandai dengan adanya perubahan komposisi di tiap-tiap lokasi sebagai akibat dari faktor lingkungan tersebut (Bhukaswan, 1980). Selain mempengaruhi distribusi ekologis ikan, faktor lingkungan juga dapat merangsang terjadinya perubahan metabolisme dan respon fiisiologis dalam tubuh ikan seperti sekresi kelenjar hormon.
Komunitas ikan sebagai bagian komponen penyusun ekosistem sungai telah sejak lama digunakan sebagai bioindikator untuk memantau kesehatan ekosistem sungai dalam jangka waktu yang lama (Alonso et al. 2011). Dalam jejaring makanan di perairan ikan menempati bagian atas rantai makanan, dan juga dimanfaatkan untuk konsumsi manusia, sehingga dianggap berperan penting untuk menilai kondisi ikan yang terkontaminasi bahan pencemar (Barbour et al. 1999). Karena siklus hidup yang relatif panjang dan mobilitas aktif, ikan dapat menjadi indikator yang baik dalam jangka panjang (beberapa tahun) untuk melihat efek dan kondisi habitat yang luas (Barbour et al. 1999). Selain itu, dengan berbagai trofik level, termasuk tingkat tertinggi yang ditempati oleh top predator, sruktur komunitas ikan dapat mencerminkan kesehatan lingkungan perairan secara terpadu (Li et al. 2010).
Komunitas ikan mampu merespon secara signifikan hampir semua jenis gangguan antropogenik, termasuk eutrofikasi, acidifition, pencemaran kimia, arus, perubahan fisik habitat akibat eksploitasi, aktivitas antropogenik, dan introduksi spesies baru ke perairan. Dengan demikian ikan dapat memprediksi perubahan lingkungan perairan (Barbour et al. 1999). Kepekaan ikan terhadap kualitas lingkungan perairan menjadi dasar untuk menjadikannya sebagai bioindikator dan biomonitoring untuk memantau kerusakan lingkungan (Li et al. 2010).
Makroinvertebrata bentik
   Kelompok utama invertebrata yang menyusun ekosistem perairan sungai (lotik) mencakup tiga filum besar: (1) Annelida (cacing), (2) Mollusca (Siput, kerang, dan remis) yang paling melimpah dan beragam, dan (3) Arthropoda (krustasea dan serangga) yang mendominasi bagian hulu, dan akan berlimpah di sepanjang aliran sungai. Oligochaeta adalah kelas dari filum annelida yang paling melimpah dan beragam serta terkenal mampu hidup pada lingkungan rendah oksigen. Kerang (bivalvia) merupakan kelas dari filum Mollusca yang sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air, sehingga sering digunakan sebagai indikator kesehatan ekosistem sungai di seluruh dunia (Wilzbach and Cummins 2008).
Secara umum komunitas makroinvertebrata bentik di kebanyakan badan perairan tawar terwakili oleh tiga kelompok besar yakni: larva chironomid, olighochaeta dan moluska. Oligochaeta dan moluska secara permanen hidup di dasar, sedangkan chironomid, ketika dalam tahap larva insekta hanya menghabiskan sebagian dari siklus hidupnya di dasar perairan. Banyak spesies dari kelompok ini merupakan manifestasi respon langsung pada keberadaan dari berbagai polutan yang berbeda di dalam massa air dan sedimen dasar, hal ini menjadikannya sebagai indikator tingkat pencemaran suatu perairan (Nazarova et al. 2004).
Perubahan kualitas air akan mempengaruhi makroinvertebrata bentik baik komposisi maupun besar populasinya di perairan. Ada beberapa jenis organisme yang mempunyai daya tahan tinggi terhadap kualitas air yang jelek, sehingga organisme tersebut dapat dipakai sebagai penentu kualitas air suatu perairan (Li et al. 2010).            Makroinvertebrata bentik di perairan sungai memiliki peran penting karena kemampuannya mendaur ulang bahan-bahan organik, seperti limbah rumah tangga, pertanian dan perikanan serta sisa-sisa organisme mati yang berasal dari perairan diatasnya atau dari sumber lain. Selain itu juga sebagai komponen penting mata rantai kedua dan ketiga dalam rantai makanan komunitas akuatik (Odum 1971). Dalam posisi trophic level di perairan sungai, makroinvertebrata bentik berperanan dalam pengolahan detritus dan bahan organik yang terakumulasi di dasar perairan. Selain itu, mereka bertindak sebagai materi makanan untuk jenjang trofik yang lebih tinggi (Wilzbach and Cummins 2008).
Banyak negara memiliki sejarah panjang menggunakan makroinvertebrata untuk memantau status ekologi sungai ekosistem. Makroinvertebrata bentik merupakan komponen kunci dari jejaring makanan di perairan yang menghubungkan bahan organik dan sumber nutrisi (misalnya, serasah, alga dan detritus) dengan tingkat trofik yang lebih tinggi (Wallace and Webster 1996 dalam Li et al. 2010). Bioindikator untuk menilai kualitas air berdasar pada makroinvertebrata menawarkan keuntungan lebih daripada penggunaan organisme lain. Komunitas makroinvertebrata cenderung mempunyai keanekaragaman lebih besar dibanding ikan atau komunitas biotik lain di dalam sungai yang sama, yang membuat evaluasi dengan beberapa metrik keanekaragaman komunitas lebih berarti. Makroinvertebrata relatif menetap, mudah untuk dikumpulkan, dan peka terhadap gangguan manusia. Sebagai tambahan, relatif peka atau toleran dari banyak makrozoobenthos yang sudah dikenal. Pada umumnya mereka menyediakan pendekatan sederhana untuk memahami dan mengukur kesehatan sungai dalam rangka mengevaluasi keseluruhan integritas ekologis dari sistem perairan (Chakrabarty and Das 2006).
ODNR (1993) mengelompokkan makroinvertebrata bentik ke dalam tiga kelompok berdasarkan toleransinya terhadap pencemaran perairan. Ketiga kelompok tersebut adalah (1) kelompok organisme intoleran terhadap pencemaran. Mereka pada umumnya dominan pada kualitas air bagus. (2) kelompok organisme yang dapat hidup pada kisaran luas dari kondisi kualitas air, (3) kelompok organisme toleran terhadap pencemaran. Mereka pada umumnya mendominansi pada kondisi kualitas air jelek.
Struktur komunitas makroinvertebrata yang sering berubah merupakan respon terhadap gangguan lingkungan yang dapat memprediksi kondisi perairan dan dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan biokriteria untuk mengevaluasi pengaruh antropogenik (Li et al. 2010). Respon makroinvertebrata terhadap perubahan lingkungan dapat terlihat dari indeks keragaman yang menurun, dominasi oleh spesies oportunistik yang menurun (misalnya siklus hidup lebih pendek, lebih cepat bereproduksi) dan ukuran individu dari spesies yang dominan menjadi berkurang. Sebagai contoh, di sungai dan sungai tercemar oleh bahan organik atau logam berat kekayaan spesies dan keanekaragaman dari komunitas makroinvertebrata menjadi berkurang sebagai dampak dari pencemaran.
Fragmentasi Habitat
Fragmentasi habitat juga harus dihindari atau diminimalkan pada derah yang memiliki nilai konservasi. Fragmentasi habitat biasanya disebabkan oleh pembangunan koridor jalan yang sering membentuk penghalang fisik untuk penyebaran dan proses rekolonisasi invertebrata dan menyebabkan kematian langsung individu baik selama pembersihan lokasi dan selama tahap oprasional proyek berjalan (Cawley et al, 2005).
Luasnya area yang akan disurvei harus didasarkan terutama pada zona pengaruh di mana dampak yang terkait dengan pembangunan jalan dan operasi diantisipasi, termasuk efek hidrologi remote pada habitat lembab pada spesies cenderung bergantung. Selain itu, karena sifat linear dari pembangunan jalan dapat mengakibatkan efek fragmentasi habitat signifikan, pertimbangan juga harus diberikan dengan jarak yang lebih dari spesies dapat bubar dan menjajah dan setiap kemungkinan 'hambatan' efek yang mungkin timbul selama dan setelah konstruksi. Selanjutnya, karena sifat kadang fana mereka sub-populasi, ketidakhadiran mereka dari situs lain yang cocok di sekitar populasi yang ada pada tahun tertentu tidak bisa memerintah-out penggunaan daerah di musim berikutnya. Sebagai habitat tersebut, cocok tetapi saat ini kosong dekat populasi yang ada juga harus dipertimbangkan nilai, karena ini habitat mungkin penting untuk kelangsungan hidup jangka panjang dari populasi (Cawley et al, 2005).
KESIMPUALAN
Indikator ekologi sanngat berperan penting dalam menunjang sukses tidaknya kegiatan konservasi. Kesalahan dalam penentuan penilain indikator ekologi maka akan berpegaruh pula terhadap kelemahan dalam menentukan strategi konservasi yang tepat. Penelaian indikator ekologi diharapakan dapat mewakili semua komponen-komponen yang saling terkait mempengaruhi semua tingkatan diantaranya dalah :  spesies sebagai indikator adalah sepesies yang dianggap rentan atau hampir punah, indikator genetik dapat diharapakan dapat menyelesaikan unit biota di alam bebas dan konektifitas ekosistem proksimat, populasi, habiat tempat atau ruang yang di tempati oleh spesies tertentu, sehingga pertimbangan damapak dari suatu kegiatan pada saat pembersihan atau pada saat operasional dapat menimbukan fragmentasi yang mengakibatkan kematian  spesies tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
Alonso C, DG de Jalón, M Marchamalo. 2011. Fish Communities as Indicators of Biological Conditions of Rivers: Methods for Reference Conditions. Ambientalia SPI.
Barbour MT, J Gerritsen, BD Snyder, JB Stribling. 1999. Rapid Bioassessment Protocols for Use in Streams and Wadeable Rivers: Periphyton, Benthic Macroinvertebrates and Fish, Second Edition. EPA 841-B-99-002. U.S. Environmental Protection Agency; Office of Water; Washington, D.C.
Bhukaswan T. 1980. Management of Asian Reservoirs Fisheries. FAO Fisheries Technical Paper 207. 69 pp.
Chakrabarty D, Das SK. 2006. Alteration of macroinvertebrate community in tropical lentic systems in context of sediment redox potential and organic pollution. Biological Rhythm Research 37: 213 – 222
Caro TM, O’Doherty G. 1999. On use of surrogate species in conservation biology. Conservation Biology. 13 (4): 805-814.
Dale V. H., Kline K. L., Kaffka S. R., Langeveld J. W. A. 2012. A landscape perspective on sustainability of agricultural systems. Environmental Sciences Division, Oak Ridge National Laboratory, Center for  Bioenergy Sustainability and Climate Change Science Institute, Oak Ridge, TN 38731, USA.
Dale, V. H., S. C. Beyeler. 2001. Challenges in the development and use of ecological indicators. Ecological Indicators 1: 3–10
Dermawan, A., A. Rusandi., D. Sutono., Suraji., 2008. Kebijakan pengelolaan kawasan konservasi perairan mendukung pengelolaan perikanan berkelanjutan. Makalah Konferensi Nasional VI di Manado.
Haryani Sri E.B., Sidqi M., Sadarun B., Nuryadi L., Sudarisman L., Puspitasari R., Widayati R., dan Nursalam. 2008. Konservasi Sumberdaya Ikan Di Indonesia. Departemen Kelautan dan Perikanan. Direktorat Jenderal Kelautan dan Pulau-Pulau Kecil. Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut. Kerja Sama Dengan Japan International Cooperation agency. Cetakan Pertama ISBN 978-979-3556-64-2.
Heritage, Cawley S., Murphy P. 2005. Ecological Surveying Techniques for Protected Flora and Fauna during the Planning of National Road Schemes. NRA (National Roads Authority)
Hill J. dan Wilkilson C. 2004. Methods For Ecological Monitoring Of Coral Reefs. ISBN 0 642 322 376. Australian Institute of Marine Science.
Kartamiharja ES.,  H. Satria. 2000. Evaluasi Ekologis Suaka Perikanan Danau Batu Bumbun di Daerah Aliran Sungai Mahakam Tengah dan Implikasi Pengelolaannya. Jurnal Pen. Perikanan Indonesia 6 (2) : 22-23.
Li L, B Zheng, L Liu. 2010. Biomonitoring and Bioindicators Used for River Ecosystems: Definitions, Approaches and Trends. International Society for Environmental Information Sciences 2010 Annual Conference (ISEIS). Procedia Environmental Sciences 2: 1510–1524
Lynch M. 1996. A quantitative-genetic perspective on conservation issues. In: Conservation Genetics; Case Histories from Nature (eds Avise JC, Hamrick JL), pp. 471-501. Chapman & Hall, New York.
Mikkelsen B. 2003. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-upaya Pemberdayaan : Sebuah Buku bagi para Praktisi Lapangan . Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Naeem S., Loreau M., Inchausti, P.   2002b. Biodiversity and Ecosystem functioning-Synthesis and perspectives, pp. 209-220. Oxford University Press Inc. New York.
Nazarova LB, Semenov VF, Sabirov RM, Efimov IY. 2004. The state of benthic communities and water quality evaluation in the Cheboksary Reservoir. Water Resources 31:316–322.
Niemi G. J. and McDonald M. E. 2004. Application Of Ecological Indicators. AR REVIEWS IN ADVANCE10.1146.
Noon BR, Spies TA, Raphael MG. 1999. Conceptual basis for designing an effectiveness monitoring program. In: Mulder BS et al. (Eds.), The Strategy and Design of the Effectiveness Monitoring Program for the Northwest Forest Plan. US Department of Agriculture, Forest Service, Gen. Tech. Rep. PNW-GTR-437, Portland, OR, pp. 21–48.
Noss RF. 1999. Assessing and monitoring forest biodiversity: a suggested framework and indicators. Forest Ecol. Manage. 115: 135–146.
Odum EP. 1971. Fundamentals of Ecology. W.B. Saunders Company, London-Toronto. 574 pp.
[ODNR] Ohio Department of Natural Resources. 1993. A Guide to Volunteer Stream Quality Monitoring. Ohio: Ohio Department of Natural Resources, Division of Natural Areas and Preserves, Scenic Rivers Section
Storfer A. 1996. Quantitative genetics: a promising approach for the assessment of genetic diversity in endangered spesies. Trends in Ecology and Evolution 11: 343–348.

Wilzbach M.A.,  Cummins K. W. 2008. Rivers and Streams: Physical Setting and Adapted Biota. Encyclopedia of Ecology, Pages 3095-3106. In Elsevier B.V.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar